Merasa Dirugikan, Pasangan “Banjar Kembali Bersinar” Klarifikasi

396

MARTAPURA,- Setelah sempat dikabarkan positif terinfeksi Covid-19 beberapa waktu lalu, pasangan bakal Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati Banjar dari jalur Independen, Andin Sofyannoor – KH. M. Syarif Bustomi (Guru Oton) menggelar klarifikasi mengenai hal tersebut, di Posko Pemenangan Banjar Kembali Bersinar, dikawasan Pusat Perbelanjaaan Sekumpul (PPS) Martapura pada Kamis (10/9) siang.

Didampingi oleh Ketua Tim Pemenangan KH. Fauzan Saleh dan Liaison Officer (LO) Supiansyah Darham, Bacabup Banjar Andin Sofyannoor membantah kabar tentang dirinya yang beredar di media sosial tersebut.

Kepada awak media, Andin menyatakan dirinya dinyatakan negatif terinfeksi Covid-19 setelah melakukan tes swab di RS Medistra Jakarta pada 8 September 2020 lalu. Andin juga memperlihatkan bukti-bukti seperti hasil tes swab-nya di Jakarta dan beberapa dokumen terkait dengan permasalahan ini.

Dijelaskannya, kronologi kejadian yang dianggap merugikannya sebagai bakal pasangan calon jelang pelaksanaan Pilkada Serentak 2020 ini.

“Awalnya sebagai sebelum kami mendaftar ke KPU, kami diminta untuk mengikuti tes swab di Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar dan Alhamdulillah akhirnya kami dinyatakan negatif. Usai melakukan pendaftaran di KPU Kabupaten Banjar pada Sabtu 5 September 2020, kami diminta untuk mengikuti tes kesehatan yang dilaksanakan di RSUD Ulin Banjarmasin,” ujarnya.

Saat akan menjalani tes kesehatan di Banjarmasin pada Minggu 6 September 2020, Andin bersama pasangannya diminta untuk melakukan tes swab sebelum mengikuti tes kesehatan yang menjadi persyaratan untuk mendaftarkan diri sebagai pasangan Cabup-Cawabup Banjar.

“Setelah mengikuti tes swab di depan pintu RSUD Ulin, kami diminta untuk menunggu hasilnya. Saat Minggu malam saya mendapat telepon dari salah satu komisioner KPU dan dinyatakan positif terpapar Covid-19, saya terkejut, begitu juga pasangan saya, dinyatakan positif padahal baru 3 hari menerima hasil negatif,” bebernya.

Namun Andin menyatakan curiga dengan pemeriksaan tersebut, karena ketika pertama menjalani tes swab, petugas mengambil sampel dari rongga hidung dan tenggorokan, sementara oleh RSUD Ulin hanya mengambil sampel dari rongga hidung saja dan tak ada surat resmi yang menyatakan ia positif dari RSUD Ulin Banjarmasin.

Karena merasa kecewa dan tidak lazim, Andin dengan bermodalkan surat pernyataan negatif dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar berangkat ke Jakarta pada Senin (7/9) dan melakukan tes swab sebanyak 2 kali, kedua tes tersebut juga menyatakan hasil negatif. Begitu pula dengan pasangannya, Guru Oton juga dinyatakan negatif beberapa hari kemudian setelah menjalani tes swab di RS Ciputra Kertak Hanyar.

Bagi pasangan perseorangan ini, berita yang menyatakan ia positif sangat merugikan pihaknya secara moril, baik pasangan calon maupun tim pemenangan.

“Hal ini membuat kita kebingungan dan ketakutan, bahkan masyarakat takut usai kita dinyatakan positif sampai beberapa pertemuan dibatalkan. Karena itu kami meminta agar pihak RSUD Ulin maupun penyelenggara pemilu bisa melakukan tes swab kembali, karena berdasarkan aturan hukum kami harus menunda tahapan selama 10 hari. Tentu saja ini sangat merugikan, kita tak bisa melakukan sosialisasi program, karena kalau kami keluar bisa dianggap melanggar, tapi saat kami tak melakukan sosialisasi kami yang dirugikan,” ungkap Andin.

Andin berharap kejadian seperti ini tak kembali terjadi, karena itu pengawasan proses pilkada lanjutnya bukan hanya jadi tugas tim-nya, tapi juga instansi, penyelenggara pemilu dan stake holder terkait agar tak ada yang dirugikan.

Hal yang sama di utarakan Ketua Tim Pemenangan, H. Fauzan Saleh yang menyatakan tim-nya mengalami kerugian akibat kabar tersebut.

“Saat mendapatkan kabar tersebut saya sedang berada di lapangan bersama masyarakat. Akibat kabar tersebut, ada masyarakat yang antusias mendukung kami lalu mengundurkan diri. Bahkan berpengaruh sampai keluarga dan jelas merugikan,” bebernya.

Ia berharap KPU sebagai penyelenggaran pilkada harus segera mengambil timdakan bijaksana untuk menjelaskan kenapa hasil swab di Banjarmasin ini berbeda dengan hasil swab di Jakarta.

“Harusnya KPU Provinsi Kalsel segera menyikapi ini dan melakukan tindak lanjut, kita tidak ingin dirugikan saat turun ke masyarakat. Kita juga ingin masyarakat mengetahui secara betul bahwa pasangan kami tidak terpapar Covid-19 langsung dari KPU,” tutup Fauzan Saleh.