Webinar Literasi Digital, Bijak Sebelum Unggah di Jejaring Sosial Media

661

MARTAPURA,- Era digital yang ditandai dengan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi terus berlangsung dan berkembang begitu cepat dan semakin canggih Kementerian Komunikasi dan Informatika menggelar webinar “kembangkan diri dengan literasi yang tepat” di Kabupaten Tapin, Jumat (20/8/2021) pagi, dibuka Bupati Tapin, Drs. H. M. Arifin Arpan, M.M.

Di ikuti sejumlah pembicara yang berkompeten yakni Nowela, Indi Arisa, Khairullah Ansari, Ph.D. dan Nadila Febycha dipandu Shabrina Anwari.

Narasumber pertama Khairullah Ansari, Ph.D. membawakan materi dengan judul, Literasi digital sebagai sarana meningkatkan pengetahuan akan warisan budaya.

“Di Ruang Lingkup Digital Culture hari ini merupakan kemampuan individu dalam membaca, menguraikan, membiasakan, memeriksa, dan membangun wawasan kebangsaan, nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari pada penggunaan media digital (terkoneksi via internet),” ujar Khairullah.

Ia juga menyebutkan area dan indikator digital culture, yakni adanya pengetahuan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, dimana adanya digitalisasi kebudayaan, serta mendorong perilaku mencintai produk dalam negeri dan digital rights.

Literasi digital sendiri merupakan kecakapan (life skills) yang tidak hanya melibatkan kemampuan menggunakan perangkat teknologi informasi, dan komunikasi. Tetapi juga kemampuan bersosialisasi, kemampuan dalam pembelajaran, dan memiliki sikap, berpikir kritis, kreatif, serta inspiratif sebagai kompetensi digital (kemendikbud).

Kemudian kendala pewarisan kebudayaan (culture mix) yaitu adanya perubahan zaman lalu penolakan generasi muda dan munculnya budaya baru.

Tentu, hal ini perlu untuk lebih dilestarikan lagi akan budaya Nasional atau lokal karna budaya adalah identitas.

Dari besarnya pengguna internet di Indonesia menjadikan peluang besar memanfaatkan sebagai sarana informasi budaya. “Seperti konsep Memanfaatkan akses kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sebagai pelestari dan pengembang nilai-nilai dan akar budaya lokal kaya pasar terapung inikan ciri khas jualan didaerah kita,” bebernya.

“Semua orang bisa melestarikan budaya dengan pendokumentasian kegiatan budaya seperti adanya tulisan, foto, dan vidio lalu di unggah di sosial media atau internet kan jadi dapat diakses masyarakat dunia,” terang Khairullah Ansari saat menutup materinya.

Selain memanfaatkan sosial media sebagai sarana mengenalkan budaya, narasumber Nadila Febycha seorang admin sosial media koranbanjar.net justru menjelaskan bagaimana bijak mengunggah di jejaring sosial media.

Ia menjelaskan apa itu media sosial, “media sosial merupakan sebuah media daring yang digunakan satu sama lain yang para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berinteraksi, berbagi, dan menciptakan isi berupa blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Yang bersumber dari wikipedia,” jelasnya.

Kata bijak sendiri menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata bijak bisa diartikan selalu menggunakan akal budinya, pandai dan mahir.

Penggunaan media sosial dulu di Indonesia, diduduki oleh Facebook dimana sekarang telah diduduki oleh Tiktok yang dimana ini diakibatkan oleh perkembangan jaman.

Alasan mereka menggunakan media sosial bagi hampir sebagian besar pengguna media sosial di Indonesia 82,8 persen adalah untuk membantu komunikasi dan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. “Jadi interaksi adalah alasan utama masyarakat di Indonesia menggunakan internet,” paparnya.

Namun, sebelum membagikan cerita do media sosial perlu dilakukan T.H.I.N.K agar kita bijak dalam menggunakan media sosial, lakukan T.H.I.N.K sebelum kamu membagikan cerita di media sosial yang dilansir melalui melansir laman San Diego Virtual chool. THINK itu terdiri dari:

  1. T (true) Apakah konten atau komen yang kamu unggah di medsos sesuai fakta atau justru hoaks?
  2. H (helpful) Apakah konten atau komen yang kamu unggah di medsos akan bermanfaat bagi orang lain atau justru melukai orang lain?
  3. I (information) Apakah informasi yang kamu unggah bisa dipertanggungjawabkan?
  4. N (needed) Apakah konten yang kamu unggah adalah sesuatu yang bisa membantu orang lain?
  5. K (kind) Apakah konten yang kamu unggah sudah bijak dan sopan, atau justru kasar?

“Nah bijaklah sebelum menggunggah postingan ke media sosial seperti berpikir sebelum mengunggah, saring informasi yang baik dan benar, dan jangan mengunggah postingan yang bersifat pribadi, kenali teman media sosialmu, jangan mengunggah postingan yang mengandung unsur SARA dan selalu menjaga etika,” ungkapnya.

Rilis