Berita

Duta Bahasa Kalsel 2026 Ajak Generasi Muda Jaga Marwah Bahasa Indonesia

 

MARTAPURA – Pemilihan Duta Bahasa Kalimantan Selatan 2026 yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan pada 2–4 Juni 2026 di Convention Hall Hotel Banjarmasin Internasional telah melahirkan generasi muda yang siap menjadi garda terdepan dalam mengampanyekan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Hal tersebut disampaikan oleh Pemenang II Duta Bahasa Kalimantan Selatan 2026, Muhammad Daffa Dzil Zidane Slucita Atmaja dan Raudah Fadila saat menjadi narasumber dalam talkshow di Radio Suara Banjar, Kamis (11/6/2026).

Muhammad Daffa mengungkapkan, keikutsertaannya dalam ajang Pemilihan Duta Bahasa Kalimantan Selatan 2026 berawal dari keinginan untuk menambah pengalaman sekaligus berkontribusi dalam pengembangan dan pemasyarakatan bahasa Indonesia. Mahasiswa semester pertama di Universitas Lambung Mangkurat itu mengaku tidak pernah membayangkan akan terpilih sebagai salah satu Duta Bahasa Kalimantan Selatan 2026.

“Menjadi Duta Bahasa bukan hanya sebuah prestise, tetapi juga tanggung jawab moral. Kami memiliki tugas untuk mengingatkan masyarakat bahwa identitas bangsa tidak hanya tercermin melalui seni dan budaya, tetapi juga melalui bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Menurut Daffa, masih banyak masyarakat yang tanpa sadar menempatkan bahasa asing sebagai simbol prestise. Padahal, bahasa Indonesia telah menjadi bahasa pemersatu bangsa sejak diikrarkannya Sumpah Pemuda pada tahun 1928.

Ia menambahkan, dukungan keluarga, lingkungan kampus serta teman-teman menjadi faktor penting dalam perjalanan dirinya mengikuti seluruh tahapan seleksi. Sebagai langkah awal menjaga marwah bahasa Indonesia, Daffa mengaku mulai menerapkannya di lingkungan keluarga.

Sementara itu, Raudah Fadila menilai media sosial menjadi salah satu ruang penting dalam upaya pembinaan bahasa Indonesia, khususnya di kalangan generasi muda. Menurutnya, fenomena pencampuran bahasa Indonesia dengan bahasa asing atau campur kode masih sering ditemukan dalam berbagai platform digital.

“Sebagai Duta Bahasa, kami harus menjadi contoh terlebih dahulu dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan. Ketika masyarakat melihat bagaimana kami berkomunikasi di media sosial, diharapkan hal itu dapat menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Raudah menjelaskan, Duta Bahasa juga kerap menjalankan peran edukatif yang ia sebut sebagai “polisi bahasa”. Namun, pendekatan yang digunakan bukanlah dengan cara menghakimi atau menyalahkan, melainkan melalui penyampaian yang santai, ramah dan mudah diterima.

“Jika ada penggunaan kata atau kalimat yang kurang sesuai, kami mencoba menyampaikannya dengan cara yang ringan dan menyenangkan. Dengan pendekatan seperti itu, masyarakat akan lebih terbuka menerima informasi,” ujarnya.

Ia juga mengajak generasi muda untuk lebih mengenal kekayaan kosakata bahasa Indonesia. Menurutnya, masih banyak kata yang jarang diketahui masyarakat, seperti “lusa” yang berarti setelah besok, maupun “tulad” yang berarti sehari setelah lusa.

“Kekayaan kosakata bahasa Indonesia sangat luar biasa. Hal-hal seperti ini bisa menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan rasa ingin tahu generasi muda terhadap bahasa Indonesia,” tambahnya.

Di akhir perbincangan, Daffa dan Raudah berpesan kepada generasi muda yang tertarik mengikuti ajang Duta Bahasa agar memahami bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar kompetisi, melainkan sebuah panggilan untuk berkontribusi bagi bangsa.

Mereka menegaskan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga bagian dari identitas, budaya, dan jati diri bangsa yang harus dijaga serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

 

Reporter : Akhmad Effendy

Editor : Ronny Lattar

Uploader : Suhendra

Terbaru

Warga Binaan Piawai Bikin Mebel, Siap Terima Pesanan

Radio Suara Banjar

Nol Kasus Malaria, Banjar Akan Terima Sertifikat Eliminasi Dari Presiden

Kabupaten Banjar Dorong Percepatan Digitalisasi Retribusi Daerah

Radio Suara Banjar