Berita

Talkshow SI-ANIDA Bahas Tips dan Trik Menulis KTI Bersama Nur Sabila Fitri

MARTAPURA – Talkshow SI-ANIDA kali ini membagikan pengalaman seputar lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) beserta tips dan trik dalam menuangkan ide menjadi karya tulis yang inovatif dan aplikatif. Kegiatan tersebut menghadirkan peraih Terbaik II Lomba KTI Kabupaten Banjar 2025, Nur Sabila Fitri, di Radio Suara Banjar, Rabu (25/02/2026) pagi.

Dalam perbincangan tersebut, Nur Sabila Fitri yang juga Apoteker di Puskesmas Sambung Makmur menekankan pentingnya mindset inovator dalam menulis KTI. Menurutnya, inovasi bukan berarti menciptakan sesuatu yang belum pernah ada di dunia, melainkan menghadirkan solusi nyata terhadap permasalahan lokal yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, berbasis keunggulan daerah, serta dapat diterapkan secara realistis.

“Jadi jangan berpikir untuk membuat sesuatu yang hebat dulu, tetapi buatlah sesuatu yang benar-benar bisa dijalankan,” tegas Sabila.

Ia mengaku awalnya tidak pernah merencanakan mengikuti lomba KTI. Sebagai apoteker yang bekerja di bidang layanan kesehatan, ia setiap hari menemukan persoalan serupa, mulai dari edukasi obat yang belum optimal, masih adanya kesalahan konsumsi obat oleh masyarakat, hingga informasi kesehatan yang kalah cepat dibandingkan informasi tidak resmi.

“Sebagai apoteker satu-satunya di Kecamatan Sambung Makmur untuk menjangkau kurang lebih 7.000 warga tentu menjadi tantangan nyata. Dari situ muncul pertanyaan dalam diri saya, apakah harus mengeluh atau mencoba membuat solusi? Jadi awalnya ikut lomba KTI bukan karena percaya diri akan menang, tetapi karena masalah ini harus dicari jalan keluarnya,” tuturnya.

Sabila juga mengingatkan sejumlah kesalahan fatal yang kerap dilakukan peserta lomba KTI. Pertama, tidak menjawab tema. Menurutnya, banyak peserta menulis dengan baik, data lengkap, dan analisis mendalam, namun tidak sesuai dengan tema yang ditentukan. Ia menyarankan agar penulis melingkari kata kunci pada tema dan memastikan setiap bab tetap berada dalam koridor tersebut. Kedua, ide hebat namun tidak realistis. Penulis sering kali ingin terlihat luar biasa tanpa disertai penjabaran yang jelas dan terukur. Ketiga, minim data dan informasi.

“Banyak tulisan hanya berisi opini penulis. Perlu diingat, tulisan ilmiah tanpa data hanyalah esai biasa,” ujarnya.

Dalam penulisan KTI, Sabila membagikan tiga pakem sederhana namun penting. Pertama, Tulis Yang Kamu Lakukan. Penulis disarankan menulis berdasarkan realitas dan pengalaman nyata di tempat kerja atau lingkungan masing-masing.

“Kalau kita bekerja di instansi misalnya puskesmas, maka tulislah realitas yang ada. Tidak perlu disembunyikan, karena pengalaman nyata lebih jujur, kuat, dan mudah dipertanggungjawabkan,” ucapnya.

Kedua, Lakukan yang Kamu Tulis. Setelah menulis konsep, penulis perlu melakukan uji coba sederhana di lingkungan terdekat agar gagasan benar-benar terimplementasi.

Ketiga, Tulis Lagi Setelah Dilakukan. Evaluasi, tantangan, dan dampak yang muncul setelah implementasi menjadi bahan tulisan lanjutan yang lebih matang dan berbasis praktik.

Nur Sabila Fitri sendiri merupakan peraih Terbaik II pada Lomba Karya Tulis Ilmiah Kabupaten Banjar Tahun 2025 dengan judul karya “Dari Puskesmas ke FYP: Meningkatkan Strategi Digital Apoteker dalam Meningkatkan Edukasi Obat kepada Masyarakat Kabupaten Banjar”.

Selain itu, ia juga meraih Terbaik III pada Lomba Karya Tulis Ilmiah yang diselenggarakan oleh BRIDA Provinsi Kalimantan Selatan 2025 dengan judul karya “PASAK BUMI: Potensi Lokal Kalimantan Selatan Menuju Inovasi Produk Herbal Modern”.

 

Reporter: Akhmad Effendy

Editor: Ronny Lattar

Uploader: Suhendra

Terbaru

Puskesmas 1 Martapura Permudah Antrean Pasien Dengan Si Palui

Rakor Internal DKISP Terkait Penanganan Banjir Dan Rencana Kedatangan RI 1

Radio Suara Banjar

Webinar Literasi Digital, Cara Aman Agar Teknologi Tidak Menjadi Musibah

Radio Suara Banjar