Webinar Literasi Digital, Perbedaan Pendapat Seolah Haram: Tersingkirlah Demokrasi dan Toleransi

212

MARTAPURA,- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menggelar Webinar Literasi Digital Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan dengan tema “Bijak Beretika di Internet Dengan Literasi Yang Tepat,”  Rabu (11/8/2021) pagi.

Dalam kegiatan webinar Literasi Digital ini, dipandu oleh Amal Bastian, sebagai presenter dan master of ceremony dalam webinar juga ditampilkan sejumlah pembicara yang berkompeten dan tak kalah seru dalam penyampaian materinya.

Materi pertama disampaikan oleh dr.Fiska Suratmono profesi ia sebagai Medical doctor and Entrepreneur serta owner dari @the_crown_clinic yang menampilkan materi seputar keamanan digital yakni “peran Orang Tua dalam keamanan Internet untuk anak.”

Sebelum masuk dalam pembahasan materi dr.Fiska menerangkan terlebih dahulu “Apa itu Internet”? Ia berkata Internet (interconnected Network) adalah sebuah sistem komunikasi global yang menghubungkan komputer-komputer dan jaringan-jaringan komputer di seluruh dunia.

Dalam penggunaan internet, kini tak hanya orang tua saja yang menggunakannya. Namun, di era sekarang penggunaan internet juga diduduki oleh kalangan anak-anak, terlebih lagi dimasa pandemi seperti sekarang mau tak mau anak-anak dihadapkan oleh serba digital.

“Sekarang Negara kita menjadi pasar utama pengguna Internet, pengguna internet di Indonesia ada sebanyak 132,7 Juta. Peringkat pertama diduduki oleh Komputer dan mobile sebesar 67,2 Juta lalu mobile sebesar 63,1 juta dan komputer 2,2 juta,” jelas dokter Fiska.

Tak kalah menarik materi dari Fiska yang menerangkan jenis konten Internet apa saja diakses, “jadi ada media sosial sebesar 129,2 juta, hiburan 128,4 juta, berita 127,9 juta yang disusul oleh pendidikan yang sekarang kini beralih pada digital ada 124,4 juta, kemudian komersil 123,5 juta dan layanan publik 121,5 juta,” terangnya pada kegiatan webinar.

Lalu, mengapa peran Orang Tua dalam keamanan Internet untuk anak diperlukan, hal ini akibat dari Revolusi Digital yakni perubahan dari teknologi mekanik dan elektronik analog ke teknologi digital (1980).

Dimana antara orang tua dan anak tak sinkron, dimana sering dikatakan kudet atau gaptek hal ini dipicu oleh Revolusi Digital sebagai contoh yang sering diketahui Handphone dulu fungsinya hanya sekedar menelpon, membalas, menerima dan mengirim pesan saja.

“Kini berubah menjadi banyaknya fitur dalam hal ini anak-anak ini perlu di awasi agar tak terjerumus dengan hal yang tak seharusnya dilihat,” tandasnya.

Meski begitu, yang perlu diwaspadai dari media digital ini sangat disayangkan. Tidak semua pendidik, Orang Tua dan masyarakat memahami atau bahkan memiliki keterampilan dalam penggunaan media digital.

“Ketidak pahaman inilah yang melahirkan persoalan dalam penggunaan media digital secara positif dan proporsional,” bebernya.

Akan tetapi dampak positif internet pada anak juga dihasilkan yakni adanya akses informasi lebih cepat dan mudah, tumbuhnya inovasi teknologi digital yang memudahkan pembelajaran daring, meningkatkan kualitas SDM melalui pengembangan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.

Terlebih munculnya berbagai sumber belajar seperti perpustakaan online, media pembelajaran online, serta diskusi online yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan.

“Akan tetapi juga memiliki dampak negatifnya juga seperti menjadi kecanduan, ada indikasi melihat konten negatif seperti itu maka perlu pentingnya anak didampingi orang tua serta pemahaman terhadap konten media digital yang sangat penting dilakukan oleh orang tua,” ujar Fiska.

Rilis